“
Nduk tenang aja…Mas mu ini akan menjadi garda paling depan membela nduk..paling
depan melindungi nduk..” katanya dengan antusias dan menggebu-gebu. Sore itu
aku cerita sedikit permasalahan dengan teman kantor.
“Nduk
gak usah takut… ada mas kok. Mas akan selalu bersama nduk. Gak boleh ada satu
pun yang nggangguin nduk. Siapapun itu dan apapun itu”. Katanya tepat wajahnya
di depan wajahku. Kedua tangannya mengelus pipiku. Ku peluk dia erat-erat. Tak
ingin segera kulepaskan.
Mendengar kalimat-kalimatnya
terasa sejuk sekali.Nyaman.
“
Maaaaaaassssss…..kecoaaaaaa”.
“Mana..mana..mana...????”tanya
dia sembari kepalanya mencari-cari ke kanan kiri..
“Waahhh..ini dia!. Kurang
ajar ya kamu. Berani sekali ngangguin istriku. Nggak sopan!!! Tenang nduk..mas
gak akan biarin kecoa nggangguin nduk ”. Setelah melewati pertarungan hebat (agak lebay) dia berhasil menangkap kecoa dan membuangnya
keluar rumah sambil tertawa selayaknya monster yang berhasil menyerang
ultraman.
Dari situ aku berpikir, pada
hakikatnya tanggungjawablah yang menjadikan lelaki pemberani. Menancapkan jiwa
pelindung secara otomatis. Karena tanggungjawab. Tanggungjawab itu bersumber
dari lafal ijab qobul. Entah percaya atau tidak setelah ijab qobul dilafalkan
akan muncul rasa tanggungjawab bagi suami terhadap istrinya . Terlebih setelah sungkem
kepada ayah mertua semakin dalam lah rasa harus menjaga putrinya.
Hanya dengan satu kalimat
tersebut telah membuat perubahan besar dalam hidup sepasang manusia. Sewaktu
haji Wada’ Rasulullah saw.bersabda:
“Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah di dalam urusan perempuan. Karena sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan kalimat Allah. Kamu telah menghalalkan kemaluan (kehormatan) mereka dengan kalimat Allah. Wajib bagi mereka (isteri-isteri) untuk tidak memasukkan ke dalam rumahmu orang yang tidak kamu sukai. Jika mereka melanggar yang tersebut pukullah mereka, tetapi jangan sampai melukai. Mereka berhak mendapatkan belanja dari kamu dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” [HR. Muslim]
Isteri adalah amanah yang dititipkan padamu. Coba bayangkan, hanya dengan satu kalimat, “Kuterima ijab fulanah binti fulan dengan mahar sekian.” Sekali lagi, hanya dengan kalimat itu, lantas laki-laki menyandang peran sebagai suami kemudian memboyong isteri, memisahkan dia dari orang-orang yang selama belasan atau bahkan puluhan tahun mengasuh, mendidik dan membesarkannya. Hanya dengan kalimat itu saja, tercabutlah hak pengasuhan dan pengawasan orang tuanya. Karena seorang isteri, setelah menikah harus lebih mentaati suami daripada orang tuanya sendiri. Hanya dengan satu kalimat segala yang haram menjadi halal, segala yang jauh menjadi dekat.
Sungguh sulit dicerna oleh pikiran, seorang anak gadis yang telah belasan atau puluhan tahun dipelihara oleh orang tuanya, lalu hanya dengan satu kalimat, hak orang tua seketika berpindah ke tangan lelaki asing. Mungkin setelah itu sang anak gadis akan pergi meninggalkan orang tuanya, hidup bersama orang ‘asing’ yang telah menjadi suaminya.
“Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah di dalam urusan perempuan. Karena sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan kalimat Allah. Kamu telah menghalalkan kemaluan (kehormatan) mereka dengan kalimat Allah. Wajib bagi mereka (isteri-isteri) untuk tidak memasukkan ke dalam rumahmu orang yang tidak kamu sukai. Jika mereka melanggar yang tersebut pukullah mereka, tetapi jangan sampai melukai. Mereka berhak mendapatkan belanja dari kamu dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” [HR. Muslim]
Isteri adalah amanah yang dititipkan padamu. Coba bayangkan, hanya dengan satu kalimat, “Kuterima ijab fulanah binti fulan dengan mahar sekian.” Sekali lagi, hanya dengan kalimat itu, lantas laki-laki menyandang peran sebagai suami kemudian memboyong isteri, memisahkan dia dari orang-orang yang selama belasan atau bahkan puluhan tahun mengasuh, mendidik dan membesarkannya. Hanya dengan kalimat itu saja, tercabutlah hak pengasuhan dan pengawasan orang tuanya. Karena seorang isteri, setelah menikah harus lebih mentaati suami daripada orang tuanya sendiri. Hanya dengan satu kalimat segala yang haram menjadi halal, segala yang jauh menjadi dekat.
Sungguh sulit dicerna oleh pikiran, seorang anak gadis yang telah belasan atau puluhan tahun dipelihara oleh orang tuanya, lalu hanya dengan satu kalimat, hak orang tua seketika berpindah ke tangan lelaki asing. Mungkin setelah itu sang anak gadis akan pergi meninggalkan orang tuanya, hidup bersama orang ‘asing’ yang telah menjadi suaminya.
Bagi
seorang lelaki, wanitanya adalah harga dirinya. Artinya harga diri lelaki
adalah ketika ia mampu menjaga istrinya, melindunginya dan membahagiakannya
setelah ia berani mengambil seorang gadis dari orangtuanya. Kalau itu tak
berhasil maka ia merasa tak memiliki harga diri.
Sadar
akan perannya sebagai suami yang notabene pemimpin rumah tangga maka apapun ia
lakukan demi tercipta keluarga yang harmonis.
Setidaknya
itulah salah satu yang menjadikan adanya keajaiban di balik ijab qobul.
Karena
aku pun merasakan itu..hehe.
#masihpengantenbaru
Wallohua’lam….
Asrama Putri
Rewrite Januari 2016